Mentari nyaris berada di atas ubun-ubun, saat empat mobil menepi di pinggiran Jalan Raya Soreang-Cipatik, medio Februari 2011. Siang itu, Kampung Badaraksa yang terletak di lereng bukit, kedatangan tamu.
Rombongan itu menyusuri jalan kecil mendaki di tengah pemukiman penduduk, hendak menuju ke atas puncak Gunung Lalakon, yang terletak di Desa Jelegong, Kecamatan Kotawaringin, Kabupaten Bandung.
Dari Kampung Badaraksa yang berada di ketinggian sekitar 720 m di atas permukaan laut, mereka bergegas naik memutari bukit dari bagian selatan ke barat.
Sambil membawa berbagai peralatan dan beberapa gulungan besar kabel, rombongan membelah hutan gunung. Derap langkah kaki mereka seolah berkejaran dengan ritme suara jengkerik, dan tonggeret di kanan-kiri.
Tim yang terdiri dari sekelompok pemuda dan para peneliti itu, akhirnya sampai di puncak setinggi 988 meter dari permukaan laut.
Kabel direntang. Tim mulai memasang alat geolistrik yang mereka bawa. Sebanyak 56 sensor yang dipasangi altimeter (alat pengukur ketinggian) diuntai dari puncak bukit ke bawah lereng, masing-masing berjarak lima meter, dicatu oleh dua aki listrik.
Alat-alat itu berfungsi mendeteksi tingkat resistivitas batuan, dan bisa digunakan menganalisa struktur kepadatan batuan hingga ratusan meter ke bawah. “Tujuan kami saat itu mengetahui apakah ada bangunan tersembunyi di dalam gunung,” kata Agung Bimo Sutedjo, kepada VIVAnews, di Jakarta, Selasa, 15 Februari 2011.
***
Agung adalah Pendiri Yayasan Turangga Seta, organisasi yang punya hajat penelitian di gunung itu. Bak tokoh fiksi Indiana Jones, awak Turangga Seta memang punya kegemaran memburu jejak sejarah. Bukan atas hasrat memiliki, tapi mengungkap kegemilangan sejarah nenek moyang di masa lalu.
Komunitas itu berdiri sekitar 2004, digawangi oleh sekelompok profesional di berbagai bidang. Ada pengajar, kontraktor bangunan, pegawai negeri sipil, karyawan perusahaan swasta, juga mahasiswa. Beberapa di antara mereka punya kepekaan lebih terhadap kehadiran gaib, atau istilah keren mereka: parallel existence.
“Kami ini semua anak-anak MIT. Bukan Masachussetts Institute of Technology, tapi Menyan Institute of Technology,” kata anggota Turangga Seta Hery Trikoyo, bergurau. Sebab, dalam melakukan perburuan terhadap situs sejarah, kadang mereka mendapat sokongan informasi lokasi dari ‘informan tak kasatmata’.
Namun, karena dasarnya mereka adalah anak-anak yang mengenyam pendidikan tinggi, dorongan mereka membuktikan informasi tersebut, mengalir deras. Tak jarang para ‘arkeolog partikelir’ ini keluar malam-malam usai jam kerja, untuk menggali sebuah tempat demi membuktikan kebenaran hipotesa mereka.
Setelah mereka menemukan benda sejarah yang mereka maksud, lalu mereka menimbunnya kembali, tanpa diketahui oleh masyarakat umum. “Kami khawatir bila diketahui banyak orang, malah diambil atau dicuri,” kata Agung.
Kali ini, kedatangan mereka ke Gunung Lalakon dalam rangka membuktikan teori mereka, bahwa ada sejumlah piramid di Indonesia. Salah satu informasi awal didapatkan dari tafsiran mereka terhadap relief Candi Penataran.
Turangga Seta percaya bahwa kebudayaan Nusantara lebih tua daripada Kebudayaan Sumeria, Mesir, atau Maya. Mereka haqul yakin Indonesia memiliki situs candi atau piramida yang lebih banyak dan lebih megah dari peradaban Mesir dan Maya.
“Ada ratusan piramida di Indonesia, dan tingginya tak kalah dari piramida Giza di Mesir yang cuma 140-an meter,” kata Agung. Meski masih harus diuji secara ilmiah, pandangan Agung senada dengan teori Profesor Arysio Santos, yang menyebutkan Indonesia adalah peradaban Atlantis yang hilang. (Baca juga: Nusantara Memendam Atlantis?)
Keyakinan ini tentu saja membuat banyak orang mengernyitkan dahi. Turangga Seta sempat mem-post keyakinan mereka ihwal keberadaan piramida di Indonesia di sebuah forum online. lengkap dengan foto-fotonya. Hasilnya, mereka menuai cemoohan dan tertawaan. “Nanti, kalau semuanya terbukti, mereka tak bisa lagi tertawa,” kata Agung berapi-api.
***
Agung mungkin sedang sesumbar. Tapi, bisa juga tidak. Usai pengujian geolistrik di Gunung Lalakon, para peneliti yang datang bersama Agung cs. terbengong-bengong. Mereka bukan sembarang peneliti. Mereka adalah peneliti papan atas. Beberapa adalah pakar geolog ternama, yang kredibilitasnya tak diragukan. Tapi karena datang atas nama pribadi, kehadiran mereka di sana tak mau diungkap.
Setidaknya, kekaguman mereka sempat diabadikan dalam sebuah rekaman video milik tim Turangga Seta yang disaksikan VIVAnews. “Selama ini saya tidak pernah menemukan struktur subsurface seperti ini. Ini unnatural (tidak alamiah - red),” kata pakar geologi yang wajahnya sering terlihat di berbagai stasiun TV itu.
Lazimnya, sebuah lapisan tanah atau lapisan batuan akan menyebar merata secara menyamping atau horisontal. Tapi hasil uji geolistrik menyatakan terdapat semacam struktur bangunan yang memiliki bentuk seperti piramida, dan di atasnya terdapat lapisan batuan tufa dan breksi dengan pola selang-seling secara bergantian.
Pola batuan tufa dan breksi ini berulang secara melintang bukan mendatar, dengan kemiringan sama. “Seolah-olah piramida ini diuruk dan dibronjong secara sengaja, agar tak longsor,” kata Hery, yang berprofesi sebagai konsultan kontraktor bangunan.
Dalam lanjutan rekaman video berikutnya, pakar geologi tadi menunjuk sebuah bentukan berwarna biru. Dalam hasil uji geolistrik, warna biru menandakan sebuah tempat yang punya resistivitas paling rendah. “Ini mungkin semacam rongga yang bisa berisi air atau tanah lempung,” pakar geologi itu menerangkan. Bentukan tadi menyerupai semacam pintu.
Yang jelas, pakar geologi itu melanjutkan, kemungkinan besar temuan itu adalah struktur buatan manusia, karena proses alamiah sepertinya tak mungkin menghasilkan pola batuan semacam itu. “Ini jelas man-made,” kata dia.
VIVAnews sempat mengkonfirmasi salah satu pakar geologi yang turut dalam penelitian ke Gunung Lalakon bersama tim Turangga Seta. Awalnya ia menampik, dan mengatakan tak tahu-menahu keberadaan struktur bangunan mirip piramida di bawah Gunung Lalakon. Tapi belakangan secara tersirat ia mengakui hal itu.
“Saya no comment,” kata geolog kawakan Andang Bachtiar kepada VIVAnews, Rabu, 23 Februari 2011. Lebih jauh, mantan Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) itu mengatakan hasil analisis itu masih belum bisa menyimpulkan apa-apa. Masih banyak hal yang perlu dibuktikan, kata Andang.
Tapi Andang kemudian mengaku, selain ke Gunung Lalakon di Bandung, juga ia mendampingi tim Turangga Seta menguji bukit serupa di daerah Sukahurip, Pengatikan, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Menurut Agung, timnya sudah melakukan pengujian geolistrik dan uji seismik di 18 titik di beberapa tempat di Indonesia. Di Bandung dan di Garut, mereka mendapat hasil kurang lebih sama. Semua serupa: indikasi adanya sebuah struktur bangunan yang mirip piramida di bawah bukit.
Bedanya, di bukit-piramida di Garut tak dijumpai adanya rongga seperti pintu, seperti halnya di Bandung. “Mungkin karena kami hanya mengujinya di salah satu bagian lereng bukit saja,” kata Hery Trikoyo. Sayang, Turangga Seta masih menutup rapat hasil uji mereka di tempat lainnya.
***
Turangga Seta mengklaim masih ada ratusan piramida lain yang tersebar di seluruh Indonesia. Salah satu pentolan Turangga Seta lainnya, Timmy Hartadi, dalam laman Facebook mereka mengatakan bahwa piramida-piramida itu tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. (Lihat Infografik)
Klaim penemuan sebuah piramida tersembunyi di dalam bukit, tak hanya terjadi di Indonesia. Klaim ini juga sempat muncul di Bosnia. Pada 2006, seorang pengarang bernama Semir Osmanagic mengklaim penemuan ini, dan sempat mengatakan mereka menemukan piramida tersembunyi di bukit Visocica, kota Visoko, yang terletak di barat laut Sarajevo.
Osmanagic mengatakan penggalian piramida itu melibatkan arkeolog dari Australia, Austria, Irlandia, Skotlandia dan Slovenia. Namun, beberapa arkeolog yang disebut Osmanagic menolak klaim tersebut.
Seperti dikutip dari situs Archaeology.org, arkeolog dari Kanada yang disebut Osmanagic, Chris Mundigler mengaku tak pernah mendukung atau setuju bekerja di proyek tersebut. "Skema ini adalah sebuah kebohongan keji terhadap masyarakat awam, dan tak akan pernah mendapat tempat di dunia ilmu pengetahuan," kata pernyataan resmi dari Asosiasi Arkeolog Eropa.
Bagaimana dengan klaim piramid di Bandung dan di Garut?
Secara geomorfologis, bentuk Gunung Lalakon di Bandung maupun Gunung Sadahurip di Garut memang memiliki bentuk yang mirip dengan piramida. Mereka memiliki empat sisi yang nyaris simetris. “Bentuknya kok begitu simetris ya? Lancipnya sangat simetris,” ujar arkeolog senior Profesor Edi Sedyawati, saat dijumpai VIVAnews di kediamannya di Jakarta, Rabu, 23 Februari 2011.
Namun, kata Edi, klaim dan hasil uji geolistrik masih belum cukup untuk mendapatkan kesimpulan akhir. Langkah selanjutnya adalah penggalian percobaan pengambilan sampel dengan memuat sebuah test bed untuk mengetahui apa benar ada indikasi lapisan-lapisan budaya dan ada bekas-bekas perbuatan manusia atau tidak.
“Tapi ini harus betul-betul penggalian arkeologi yang meminta izin kantor suaka purbakala dan melibatkan arkeolog, karena harus ada pertanggung jawaban dan laporan, dari mili ke mili (milimeter, red)," kata Edi Sedyawati.
Turangga Seta pun tengah mengusahakan izin pengambilan sampel tanah di Gunung Lalakon kepada Pemda Jawa Barat. “Kami hanya perlu menggali tanah di lokasi, selebar sekitar 3-4 meter dengan kedalaman sekitar 3 meter,” kata Agung.
Gunung Lalakon dikelilingi beberapa bukit lain seperti bukit Paseban, Pancir, Paninjoan, Pasir Malang. Di bukit Paseban ada tiga buah batu, yang dua di antaranya terdapat telapak kaki manusia dewasa, dan telapak kaki anak-anak.
Menurut Edi, bila benar batu telapak itu peninggalan sejarah, kemungkinan ini berasal dari zaman megalitikum. Batu telapak juga sudah dijumpai di tempat lain, seperti prasasti Ciaruteun, peninggalan Raja Purnawarman dari kerajaan Tarumanegara. “Cap telapak kaki biasanya diabadikan sebagai monumen mengenang pemimpin suatu daerah,” kata Edi.
Cap kaki juga erat kaitannya dengan konsep Triwikrama atau tiga langkah yang berkembang di masa itu. Saat itu, mereka percaya bila seseorang hendak naik ke dunia dewa-dewa, mereka harus menjejak dengan keras agar dapat melompat tinggi sekali.
Sementara itu, di Gunung Lalakon juga terdapat beberapa situs batuan, seperti Batu Lawang, Batu Pabiasan, Batu Warung, Batu Pupuk, Batu Renges, Batu gajah, dan sebuah batu panjang yang terletak di atas puncak.
Menurut Abah Acu, tokoh masyarakat Kampung Badaraksa, secara filosofis, Gunung Lalakon adalah perlambang sebuah lakon dari kehidupan manusia. Batu-batu tadi merepresentasikan berbagai lakon atau profesi yang dipilih oleh manusia.
Namun, keberadaan batu-batu tadi kerap disalahgunakan. Banyak orang datang ke tempat batu di Gunung Lalakon mencari pesugihan. Bahkan, menurut Jujun, tokoh agama Islam di tempat itu, dulu banyak orang datang ke Batu Gajah mencari ilham judi buntut. “Banyak pula yang berhasil menang,” kata Jujun.
Jujun menerangkan, di Gunung Lalakon secara rutin juga digelar acara ritual tolak bala, yakni dengan membuat nasi tumpeng kemudian dibagikan dan dimakan oleh penduduk. “Acara ini diadakan setiap tahun, biasanya setiap tanggal 1 Syuro.”
Berbeda dengan tradisi di Gunung Lalakon, masyarakat di sekitar Gunung Sadahurip relatif lebih ‘modern’. Menurut Nanang, warga Kampung Cicapar Pasir, kampung terdekat Gunung Sadahurip, di sana tak ada tradisi tolak bala. Masyarakat sekitar juga tak terlalu peduli dengan mitos gunung itu di masa lalu.
***
Pakar sejarah dari Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Nina Herlina Lubis, mengatakan di Tatar Sunda yang meliputi Jawa Barat, Banten, DKI, dan sebagian Provinsi Jawa Tengah, terutama dataran tinggi seperti Banten Selatan, Cianjur, Sukabumi, Bandung, Garut, Kuningan, dan Bogor, banyak ditemukan peninggalan budaya megalitikum. Tinggalan-tinggalan itu di antaranya berupa batu menhir, bangunan berundak, batu lumpang, peti kubur batu, batu dakon, dan arca megalitik.
Namun, Nina menjelaskan, sejarah di Tatar Sunda tak mengenal bangunan piramida karena tak ada kebiasaan di Tatar Sunda membuat bangunan piramida dengan ketinggian hampir ratusan meter sebagai tempat suci. “Tempat suci di Tatar Sunda ini seringkali disebut multi-component sites atau situs berkelanjutan,” kata Nina melalui surat elektronik kepada VIVAnews.
Bila pada masa prasejarah tempat suci itu dikenal sebagai punden berundak-undak, tempat pemujaan leluhur, maka ketika budaya Hindu Budha (yang hidup pada masa Kerajaan Tarumanegara dan Kerajaan Sunda), tempat suci itu terus dipergunakan.
Hanya saja menhir dijadikan sebagai lingga, lalu bangunan berundak itupun diwujudkan dengan gunung yang di atasnya dibangun lingga. Saat Kerajaan Sunda runtuh, maka lingga pun diganti dengan nisan bagi makam tokoh yang dianggap keramat.
Saat diberitahu di bukit-piramida Bandung maupun Garut ada makam yang dikeramatkan, serta adanya keluarga keturunan Syekh Abdul Muhyi, penyebar agama Islam di kawasan Priangan Timur, yang hidup dua abad setelah Kerajaan Sunda runtuh, Nina berusaha membuat konklusi dan analisa.
“Saya menduga bahwa bukit berbentuk piramida ini, adalah mandala (daerah pertapaan berupa dusun mandiri yang terletak di tempat terpencil), yang sudah tercampur dengan budaya yang datang kemudian (yaitu Hindu-Budha-Islam),” ujar Nina.
Namun untuk mengungkap apa sesungguhnya yang tersembunyi di balik bukit berbentuk piramid itu, kata Nina, para geolog harus bekerjasama dengan para arkeolog untuk melakukan ekskavasi (penyingkapan).
***
Cerita soal penemuan bukit berstruktur piramida ini rupanya telah sampai pula ke Istana Presiden. Seorang pejabat di lingkaran presiden, kepada VIVAnews mengaku telah dilaporkan ihwal riset itu. Untuk keterangan soal ini, dia minta tak disebutkan namanya, menimbang riset yang belum rampung.
“Ya, saya sudah lihat analisis geolistrik dan georadar-nya. Saya menyaksikannya dalam bentuk tiga dimensi. Menakjubkan, dan masih misterius. Tim riset itu dipimpin oleh para geolog terpercaya,” ujar si pejabat itu lagi, Rabu pekan lalu.
Tapi, pejabat itu tak mau menjelaskan detil penemuan. Sang geolog, ujarnya, belum mau diungkapkan ke publik. “Masih didalami oleh tim riset mereka, tetapi dari hasil yang ada, memang mencengangkan,” ujarnya.
Dia melukiskan, dari hasil geolisitrik tampak struktur berbentuk piramida di dalam bukit itu. Ada undak-undakan, mirip tangga menuju puncak piramida. Di bagian dasar, ada semacam pintu, dan tampak juga sesuatu yang mirip lorong di dalamnya.
Dia menambahkan, para ahli itu percaya ada semacam struktur geologis tak biasa di dalam gunung menyerupai piramida itu. Para ahli geologi itu, kata si pejabat istana, mempertaruhkan kredibilitas keilmuan mereka. “Kita tunggu saja. Kalau riset dan pembuktian ilmiah sudah lengkap, pasti akan dibuka ke masyarakat”.
Mungkin inilah masa penantian yang cukup menegangkan. Adakah bukit piramida ini sekadar dongeng ala piramida Bosnia yang berulang, atau memang suatu pengungkapan gemilang tentang adanya suatu peradaban besar di Nusantara yang belum pernah terungkap? (np)
Baroedax Panceg
Selasa, 01 Maret 2011
Minggu, 06 Februari 2011
Koin Kuno Yunani Ungkap Astronomi Langka
Koin ini menandai kejadian astronomi langka ketika Jupiter mengalami gerhana karena bulan. Hal itu terjadi pada 12 Januari SM dan peristiwa itu terlihat di Antioch, ibukota Seleucid Empire.
Koin berusia 2.100 tahun itu bergambar Raja Antiochos VIII di satu sisi dan Zeus di sisi lain. Di atas kepala Zeus tampak obyek seperti bintang (mungkin Jupiter) melayang di atas telapak tangan kanannya.
"Tak ada yang pernah menggunakan ikonografi itu lagi, koin ini pengecualian," kata Profesor University of Windsor Kanada Robert Weir.
Antiochos VIII menjadi penguasa Seleucid Empire, kerajaan yang diciptakan salah satu pejabat pada masa Alexander Agung, setelah penguasanya meninggal pada 323 SM.
Weir penasaran mengapa Antiochos membuat mata uang dengan gambar tak biasa itu. Weir menemukan, pada 17 Januari 121 SM warga melihat Jupiter tertutup bulan, astronom modern menyebutnya ‘okultasi’.
“Jupiter, ketika terhalang bulan, berada di rasi bintang Cancer yang merupakan konstelasi sangat signifikan,” katanya. Artinya, terdapat kemungkinan ada kedatangan raja besar atau lahir. Di Suriah, kontelasi Cancer sangat diyakini astrolog kuno.
Namun, Antiochos mengalami konflik di mana salah satu saudaranya, Antiochos IX, mempertanyakan hak tahta. Keduanya lalu setuju membagi apa yang tersisa dari kerajaan Seleucid. Sementara itu, keberuntungan kosmik sang raja berakhir.
Weir mengatakan, “Beberapa tahun setelah raja membunuh ibunya, gerhana kemalangan Mars dan Saturnus terjadi”. Namun, sesaat sebelum koin berhenti dicetak, sekitar 114 SM, "Terjadi sesuatu di langit yang hanya terjadi sekali tiap dua ribu tahun,” katanya.
"Bulan gerhana Mars dan Saturnus terjadi bersamaan. Peristiwa merupakan pertanda buruk," katanya. Penelitian ini dipresentasikan pada pertemuan tahunan terbaru Archaeological Institue of America.
Koin berusia 2.100 tahun itu bergambar Raja Antiochos VIII di satu sisi dan Zeus di sisi lain. Di atas kepala Zeus tampak obyek seperti bintang (mungkin Jupiter) melayang di atas telapak tangan kanannya.
"Tak ada yang pernah menggunakan ikonografi itu lagi, koin ini pengecualian," kata Profesor University of Windsor Kanada Robert Weir.
Antiochos VIII menjadi penguasa Seleucid Empire, kerajaan yang diciptakan salah satu pejabat pada masa Alexander Agung, setelah penguasanya meninggal pada 323 SM.
Weir penasaran mengapa Antiochos membuat mata uang dengan gambar tak biasa itu. Weir menemukan, pada 17 Januari 121 SM warga melihat Jupiter tertutup bulan, astronom modern menyebutnya ‘okultasi’.
“Jupiter, ketika terhalang bulan, berada di rasi bintang Cancer yang merupakan konstelasi sangat signifikan,” katanya. Artinya, terdapat kemungkinan ada kedatangan raja besar atau lahir. Di Suriah, kontelasi Cancer sangat diyakini astrolog kuno.
Namun, Antiochos mengalami konflik di mana salah satu saudaranya, Antiochos IX, mempertanyakan hak tahta. Keduanya lalu setuju membagi apa yang tersisa dari kerajaan Seleucid. Sementara itu, keberuntungan kosmik sang raja berakhir.
Weir mengatakan, “Beberapa tahun setelah raja membunuh ibunya, gerhana kemalangan Mars dan Saturnus terjadi”. Namun, sesaat sebelum koin berhenti dicetak, sekitar 114 SM, "Terjadi sesuatu di langit yang hanya terjadi sekali tiap dua ribu tahun,” katanya.
"Bulan gerhana Mars dan Saturnus terjadi bersamaan. Peristiwa merupakan pertanda buruk," katanya. Penelitian ini dipresentasikan pada pertemuan tahunan terbaru Archaeological Institue of America.
Gerhana Matahari Cincin
GERHANA matahari cincin melewati Samudra Atlantik, bagian selatan Afrika, Samudra Hindia, Kepulauan Cocos, Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan berakhir sebelum Mindanao, Filipina.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan jalur lintasan gerhana dimulai dari Samudra Hindia sekitar selatan perairan Benua Afrika pada pukul 13.06 WIB.
Kemudian menelusuri Samudra Hindia, daratan Sumatra bagian selatan, Jawa paling barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan sebagian Provinsi Gorontalo, sebelum berakhir di perairan selatan Mindanao (Filipina) pada pukul 16.52 WIB.
Wilayah Indonesia yang pertama kali kontak dengan sentral gerhana adalah Pulau Enggano, Bengkulu. Puncak gerhana dengan bayang-bayang bulan menutupi 92,82% permukaan matahari terjadi pada pukul 15.00 WIB yang berada di tengah Samudra Hindia.
Secara umum, gerhana matahari cincin kali ini akan terjadi pada sepanjang 14.500 km dengan lebar jalur bayang-bayang bulan yang menutupi sinar matahari selebar 280 km atau melewati 0,9% luas seluruh permukaan bumi dengan lama gerhana 3 jam 46 menit.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan jalur lintasan gerhana dimulai dari Samudra Hindia sekitar selatan perairan Benua Afrika pada pukul 13.06 WIB.
Kemudian menelusuri Samudra Hindia, daratan Sumatra bagian selatan, Jawa paling barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan sebagian Provinsi Gorontalo, sebelum berakhir di perairan selatan Mindanao (Filipina) pada pukul 16.52 WIB.
Wilayah Indonesia yang pertama kali kontak dengan sentral gerhana adalah Pulau Enggano, Bengkulu. Puncak gerhana dengan bayang-bayang bulan menutupi 92,82% permukaan matahari terjadi pada pukul 15.00 WIB yang berada di tengah Samudra Hindia.
Secara umum, gerhana matahari cincin kali ini akan terjadi pada sepanjang 14.500 km dengan lebar jalur bayang-bayang bulan yang menutupi sinar matahari selebar 280 km atau melewati 0,9% luas seluruh permukaan bumi dengan lama gerhana 3 jam 46 menit.
Rabu, 02 Februari 2011
SANTRI BODO
ya santri pohara beletna. Nepi ka mindeng jadi pamoyokan santri-santri lianna. Mangtaun-taun masantrén, can ngalaman hatam Alqur’an sakali-kali acan. Boro-boro hatam Alqur’an, jampé solat ogé ukur baé bisa maca fatihah jeung surat parondok. Puguh deui nalar kitab atawa nyarita ku basa Arab mah, tinggaleun pisan. Tapi, ari ngaliwet mah pangpinterna. Kabéjakeun kaanggo ku Ajengan sagala.
Loba babaturanana nu geus baroga pasantrén sorangan. Atuh santri-santri anyar jul-jol, ngaganti nu geus taramat. Ari manéhna teu menyat-menyat. Tungtungna ngarasa éra sorangan. Éra ku sasama santri, éra ku Ajengan.
Tina geus teu kuat nahan kaéra, hiji poé manéhna nepungan Ajengan di bumina. Maksudna rék terus terang, niat balik ka lemburna. Barang tepung pok nyarita, “Ajengan abdi seja amitan, badé mulang ka lembur,” cenah.
“Mulang téh mulang kumaha, apan lain waktuna peré?” témbal Ajengan.
“Mulang teras, moal wangsul deui ka pasantrén. Da bongan geuning, mangtaun-taun masantrén, teu aya pisan kamajengan.”
Ajengan henteu buru-buru ngidinan. Malah terus ngawurukan, sangkan ulah babari pegat harepan. Unggal jelema kamampuhna teu sarua, cenah. Aya nu gancang bisa nagkep pangajaranana, teu kurang-kurang anu butuh waktu rada lila, kakara manéhna ngarti.
“Ulah, manéh ulah mulang, mending balik deui ka pondok. Hég diajar leuwih rajin!” saurna deui.
Tapi manéhna keukeuh ménta diidinan mulang. Basana, ti batan miceunan waktu di pasantrén, mending sagawé-gawé di lembur. Diajar néangan pangupa jiwa.
Ku sabab niatna geus pageuh, ahirna Ajengan teu tiasa naon-naon.
“Rék iraha manéh mulang, apan ayeuna mah geus burit?”
“Badé énjing saatosna solat subuh,” cenah, teu poho ménta didungakeun.
Isukna, rebun-rebun pisan manéhna ninggalkeun pasantrén. Ti pasantrén ka leburna téh, lilana kira-kira sapoé. Sajaba ti éta kudu ngaliwatan leuweung, ngurilingan pasir, sarta turun ngaraas walungan. Tengah poé kakara meunang satengahna pasir. Hartina satengah poé deui, kakara nepi ka lemburna.
Lantaran ngarasa capé, Ki Santri eureun heula niat reureuh. Gék diuk handapeun tangkal kai. Kaayaan di sakurilingeunana kacida tiiseunana. Nu kadéngé téh ukur sora angin nebak tatangkalan, paselang jeung cluk-clakna cikaracak. Tapi, ku sabab capé, guher manéhna saré tibra pisan.
Hudang-hudang beuteungna ngarasa lapar. Rét ka luhur, panonpoé mimiti déngdék ngulon. Kop kana bekel bawana. Réngsé dahar tuluy beberesih, nginum sakalian wudu tina solokan leutik, teu jauh ti tempat manéhna reureuh. Bérés wudu, terus solat lohor luhureun batu lémpar.
Tah, waktu manéhna solat, sora cai nyakclak kadéngéna beuki jelas. Clak…clak…clak…, cenah, siga meunang ngatur. Méh baé solatna batal.
Tutas solat, panasaran hayang nyaho asalna sora. Sabada ditéangan, bréh … katénjo, cai tina sela-sela batu, ngarayap mapay aakaran, méméh ragrag ninggang batu lémpar.
Ieu geuning asal datangna sora téh, gerentesna.. Ngan édas mani siga beunang ngatur. Sora rag-ragna ngalagu, sarta angger wirahmana. Persis sora tik-tekna jarum jam. Kalakuan cai ku manéhna terus diperhatikeun. Ti mimiti barijil tina sela-sela batu, tuluy mapay aakaran, nepi ka tingkareclak ragrag kana batu téa.
Ana diteges-teges, geuning batu anu kacakclakan cai téh nepi ka legokna. Hég ku manéhna dipikiran, batu sakitu teuasna bisa legok ukur karagragan cikaracak. Pasti lain waktu sakeudeung-sakeudeung. Bisa jadi mangpuluh-puluh taun.
Heueuh ari leukeun jeung sabar mah, cai nu ukur sakeclak-sakeclak, bisa ngalegokan batu nu sakitu teuasna. Naha ari aing…, tungtungna inget kana kalakuan sorangan. Pédah diajar ngaji teu bisa-bisa, gancang ngarasa éléh. Nepi ka milih balik ka lembur, ti batan diajar leuwih soson-soson.
Harita kénéh manéhna ngagidig seja balik deui ka pasantrén. Dina jero haténa jangji rék leuwih rajin diajar. Cenah éta boga uteuk kacida beletna, rék nurutan laku cai. Teu bisa sataun, dua taun. Dua taun teu bisa kénéh, matak naon tilu taun. Sugan ari leukeun jeung sabar mah laun-laun kataékan.
Kajurung ku sumanget rék diajar leuwih getol, leumpangna satengah lumpat. Atuh méméh magrib téh geus datang deui ka pasantrén. Rasa éra duméh geus amitan balik deui, buru-buru disingkirkeun.
“Aéh, geuning ilaing?” Ajengan kagét nénjo santrina balik deui.
“Leres, abdi Ajengan,” cenah.
Méméh Ajengan naros papanjangan, leuwih ti heula manéhna ngadadarkeun lalakonna. Nyaéta manggihan cikaracak, ragrag nyakclak ninggang batu, nepi ka éta batu jadi legok.
“Piraku abdi, manusa, kudu éléh ku cai jeung batu,” cenah ka Ajengan.
Ku sabab diajarna leuwih enya-enya, sakitu taun ti harita, masantrénna teu burung tamat. Kabéjakeun éta santri belet téh nepi ka boga pasantrén gedé, sarta sohor ajengan luhung élmuna.
Loba babaturanana nu geus baroga pasantrén sorangan. Atuh santri-santri anyar jul-jol, ngaganti nu geus taramat. Ari manéhna teu menyat-menyat. Tungtungna ngarasa éra sorangan. Éra ku sasama santri, éra ku Ajengan.
Tina geus teu kuat nahan kaéra, hiji poé manéhna nepungan Ajengan di bumina. Maksudna rék terus terang, niat balik ka lemburna. Barang tepung pok nyarita, “Ajengan abdi seja amitan, badé mulang ka lembur,” cenah.
“Mulang téh mulang kumaha, apan lain waktuna peré?” témbal Ajengan.
“Mulang teras, moal wangsul deui ka pasantrén. Da bongan geuning, mangtaun-taun masantrén, teu aya pisan kamajengan.”
Ajengan henteu buru-buru ngidinan. Malah terus ngawurukan, sangkan ulah babari pegat harepan. Unggal jelema kamampuhna teu sarua, cenah. Aya nu gancang bisa nagkep pangajaranana, teu kurang-kurang anu butuh waktu rada lila, kakara manéhna ngarti.
“Ulah, manéh ulah mulang, mending balik deui ka pondok. Hég diajar leuwih rajin!” saurna deui.
Tapi manéhna keukeuh ménta diidinan mulang. Basana, ti batan miceunan waktu di pasantrén, mending sagawé-gawé di lembur. Diajar néangan pangupa jiwa.
Ku sabab niatna geus pageuh, ahirna Ajengan teu tiasa naon-naon.
“Rék iraha manéh mulang, apan ayeuna mah geus burit?”
“Badé énjing saatosna solat subuh,” cenah, teu poho ménta didungakeun.
Isukna, rebun-rebun pisan manéhna ninggalkeun pasantrén. Ti pasantrén ka leburna téh, lilana kira-kira sapoé. Sajaba ti éta kudu ngaliwatan leuweung, ngurilingan pasir, sarta turun ngaraas walungan. Tengah poé kakara meunang satengahna pasir. Hartina satengah poé deui, kakara nepi ka lemburna.
Lantaran ngarasa capé, Ki Santri eureun heula niat reureuh. Gék diuk handapeun tangkal kai. Kaayaan di sakurilingeunana kacida tiiseunana. Nu kadéngé téh ukur sora angin nebak tatangkalan, paselang jeung cluk-clakna cikaracak. Tapi, ku sabab capé, guher manéhna saré tibra pisan.
Hudang-hudang beuteungna ngarasa lapar. Rét ka luhur, panonpoé mimiti déngdék ngulon. Kop kana bekel bawana. Réngsé dahar tuluy beberesih, nginum sakalian wudu tina solokan leutik, teu jauh ti tempat manéhna reureuh. Bérés wudu, terus solat lohor luhureun batu lémpar.
Tah, waktu manéhna solat, sora cai nyakclak kadéngéna beuki jelas. Clak…clak…clak…, cenah, siga meunang ngatur. Méh baé solatna batal.
Tutas solat, panasaran hayang nyaho asalna sora. Sabada ditéangan, bréh … katénjo, cai tina sela-sela batu, ngarayap mapay aakaran, méméh ragrag ninggang batu lémpar.
Ieu geuning asal datangna sora téh, gerentesna.. Ngan édas mani siga beunang ngatur. Sora rag-ragna ngalagu, sarta angger wirahmana. Persis sora tik-tekna jarum jam. Kalakuan cai ku manéhna terus diperhatikeun. Ti mimiti barijil tina sela-sela batu, tuluy mapay aakaran, nepi ka tingkareclak ragrag kana batu téa.
Ana diteges-teges, geuning batu anu kacakclakan cai téh nepi ka legokna. Hég ku manéhna dipikiran, batu sakitu teuasna bisa legok ukur karagragan cikaracak. Pasti lain waktu sakeudeung-sakeudeung. Bisa jadi mangpuluh-puluh taun.
Heueuh ari leukeun jeung sabar mah, cai nu ukur sakeclak-sakeclak, bisa ngalegokan batu nu sakitu teuasna. Naha ari aing…, tungtungna inget kana kalakuan sorangan. Pédah diajar ngaji teu bisa-bisa, gancang ngarasa éléh. Nepi ka milih balik ka lembur, ti batan diajar leuwih soson-soson.
Harita kénéh manéhna ngagidig seja balik deui ka pasantrén. Dina jero haténa jangji rék leuwih rajin diajar. Cenah éta boga uteuk kacida beletna, rék nurutan laku cai. Teu bisa sataun, dua taun. Dua taun teu bisa kénéh, matak naon tilu taun. Sugan ari leukeun jeung sabar mah laun-laun kataékan.
Kajurung ku sumanget rék diajar leuwih getol, leumpangna satengah lumpat. Atuh méméh magrib téh geus datang deui ka pasantrén. Rasa éra duméh geus amitan balik deui, buru-buru disingkirkeun.
“Aéh, geuning ilaing?” Ajengan kagét nénjo santrina balik deui.
“Leres, abdi Ajengan,” cenah.
Méméh Ajengan naros papanjangan, leuwih ti heula manéhna ngadadarkeun lalakonna. Nyaéta manggihan cikaracak, ragrag nyakclak ninggang batu, nepi ka éta batu jadi legok.
“Piraku abdi, manusa, kudu éléh ku cai jeung batu,” cenah ka Ajengan.
Ku sabab diajarna leuwih enya-enya, sakitu taun ti harita, masantrénna teu burung tamat. Kabéjakeun éta santri belet téh nepi ka boga pasantrén gedé, sarta sohor ajengan luhung élmuna.
Selasa, 01 Februari 2011
NINI-NINI MALARAT JEUNG DELEG
,Tah dada aing” Sorana mani handaruan. Kurang-kurangna teger mah nu ngadenge matak baseuh tjalana. Song dada rubakna nu buluan diasongkeun. Sorot panonna nu buringhas siga tembus kana hulu angen musuhna. Njaliara ka sakudjur awak nu keur disanghareupan. Unggal rindat, usik djeung kereteg musuhna geus kaukur. Moal kapiheulaan babar manehna mah. ,,Hajoh dia ulah ngadjedog bae.”
Si Gomar anu geus kasohor djago di daerah Tjibaliung, hatena rada hemar-hemir. Asa kakara manggih lawan anu teuneung ludeung asup ka daerahna. Sanadjan manehna geus njaho kana ngaranna oge, ari adu hareupan mah kakara, da di dunja kadjawaraan di sakuliah Banten mah teu aja nu bireuk atuh ka si Djago the. Djago-djago di Labuan, Menes, Rangkas, Cilegon, Pandeglang geus teter. Kabeh dipatjundang. Karek ku haok djeung polototna bae ge geus rea nu taluk. Komo ieu bari diparag ku si Djago djeung baladna saperti ajeuna mah.
Kareret ku djuru panon Si Gomar, balad-balad[3] manehna sorangan bangun nu leungit pangatjian. Renghap manehna narik napas pandjang, tajohna ngumpulkeun heula tanaga djeung pangatjian.
,,Djadi asal idjen!” djawab Si Gomar neger-negerkeun maneh. Hatena mah teu wudu dag diug dug. Srog madju ka hareup. Bedog Tjiomasna meh ngangsar kana taneuh. Geulang bahar meulit dina pigeulang duanana. Dua djago geus adu hareupan. Nu saurang awak badag sembada, nu saurang deui djangkung leutik.
Njeh Si Djago njerengeh semu nu ngahoa. Pikirna sageprak oge Si Gomar moal teu rubuh.
,,Heeet” Si Djago ngagigila musuhna. Dina kalangan pentja di Banten mah sora ieu teh pikeun mere peringetan. Musuh kudu iatna sabab gorowok kieu the biasana disusul ku panaradjang kilat nu bahja. Tapi da lain djawara sakatiga atuh si Gomar oge. Nangtungna masing angger tagen. Teu seber ku geretak nu matak katorekan. Manehna tetep ngadago gerakna musuhna. Tapi nu didago lebeng.
Ana barakatak the Si Djago ngagakgak ,,Heuh, heuh, heuh,” matak muringkak bulu punduk. ,,Heuh heuheuh, bener djago dia, njah! Deungeun-deungeun mah karek dihetkeun geh geus bidjil kokoneng.”
Rej beungeut Si Gomar beureum. Hatena ngentab panas. Leungit sagala kagimir. Ajeuna paeh isuk paeh. La haula wa la kuwata, tjeuk hatena njambat. Teuing ka saha. Ngan nu dipeleng ku mengingetna mah, guruna, nu nurunkeun sagala elmu pentja djeung kawedukan.
,,Hajoh dia madju”. Ragamang Si Djago rek ngarawel beuheung Si Gomar. Ieu pisan nu diarep-arep[4] ku Si Gomar ge. Antara sasenti deui ngagilek, leungeun musuh digiwarkeun kaluar. Tapi…. Meh wae manehna kaleungitan kasaimbangan badanna. Da leungeun Si Djago sakilat: ,,leungit”. Sihoreng eta gerak tipu. Geuwat manehna menerkeun deui tangtunganana.
,,Heuh, heuh heuh” Si Djago Tjeutjeuleukeuteukan. Seuri nu karasana asa balati nurih angen Si Gomar. Saumur dumelah, karek ajeuna dipojok djeung digeuhgeujkeun dina kalang, mangkaning di lembur sorangan deuih. Renghap deui narik napas. Huntuna kekerot. Napsuna mimiti ngagudag-gudag. Gorowok manehna nantang. ,,Hajoh dia djago, madju Setan ……….”.
Djep nu njeungseurikeun djempe. Rej beungeut Si Djago beureum. Biwirna mani ngawet, dadana beuki didjeberkeun. Panonna molotot bangun anu rek ngalegleg.
,,Disakalikeun dia ku aing ajeuna mah, moal diomberan,” gerentesna. Sebrut peureup katuhuna nu sagede tjengkir ngahiuk. Djleng Si Gomar luntjat ka katuhueun musuhna, bari nepak siku Si Djago ku leungeun kentja, bareng djeung suku katuhuna nedjeh palangkakan. Mun nu sedjen mah dina tangtung kitu teh geus pasti beunang mamatihna.
Tapi Si Djago nu kakontjara maher pentjana, ngan ukur djero sasekon geus bisa ngomean tangtungna. Sret narik leungeunna nu milepas, disikukeun bari ngarengkogkeun awakna. Tulang siku diadu djeung tuur Si Gomar. Ngan sakilat duanana geus pada menerkeun deui tangtungna. Sadjongdjonan papelong-pelong[5]. Napasna ngaharegak. Sebrut deui Si Djago ngaheumbatkeun peureup katuhuna. Tapi harita keneh ditjentok deui bari ngagilirkeun awakna ka katuhu. Atuh Si Gomar nu rek ngadua kalian mitjeun panaradjang musuhna kawas tadi teh, ajeuna kapalingan tangtung. Karek ge djleng ka katuhu geus dipapag manten ku peureup Si Djago nu ditudjukeun kana beungeutna. Gerak refleks Si Gomar teu kendor, lep manehna ngelok, brek pasang depok. Peureup kentja Si Djago ngahiuk mani bangbaraan milepas luhureun sirah musuhna. Kapaksa Si Djago ngalengkah ka hareup pikeun mere kasaimbangan tangtungna nu lontjer. Tapi karek ge tjlek sukuna kana taneuh, geprak suku Si Gomar ngagunting. Riek awak Si Djago njanggejeng. Arek dibeubeutkeun pisan, gewewek ngaranggeum buuk Si Gomar. Nu laladjo mongkek napas. Gurindjal, djleng Si Gomar luntjat heula. Geutih ngarej kana tarangna. Serepet bedogna dilugas. Gurilap-gurilap[6] katodjo panon poe.
Si Djago, da beurat ku awak, teu kaburu nangtung. Kapaksa manehna ulin di handap, pikeun nahan panaradjang Si Gomar. Seak sora bedog ngahiuk njabet beuheungna. Gilek Si Djago ngagilek bari ngadepong, djekres sukuna ngagunting musuhna. Tapi Si Gomar rikat pisan ngadjleng.
Djleng ka kentja, ketjek suku Si Djago dikadek, tapi poos digiwarkeun, bles bedogna nantjeb kana taneuh. Si Gomar dina sikep nu nguntungkeun, terus njehtjer musuhna ………………. Djlung-djleng ka kentja ka katuhu bari njabet-njabetkeun[7] bedogna. Si Djago napasna geus mimiti ngahegak. Manehna kapaksa ngalawan musuhna ku karikatan sukuna wungkul. Kaajaanana matak pikahariwangeun.
,,Tah, Ka ………. !” Salah saurang balad Si Djago ngagorowok. Belewer aja nu ngalajang luhureun sirah Si Djago, manehna ngagilek bari njanggap bedog musuhna ku siku-siku.
Belentrang wadja pada wadja diadu, bareng djeung ngagoakna Si Gomar. Pluk bedogna murag tina leungeunna. Sadjongdjongan ngadjengdjen, bru nu rubuh bari sesegor, Si Gomar palastra-satria tengahing kalang. Aja nu djail ti luareun kalang!
Si Djago nu masih ngadepong bari ngahegak, olohok nendjo musuhna teu puguh-puguh[8] rubuh. Djung manehna nangtung lalaunan. Breh katendjo aja peso nantjeb dina tonggong Si Gomar. Barakatak manehna seuri. Geus biasa da, samangsa-mangsa manehna kapeped dina tarung, geus tangtu aja pakarang ,,rasiah” nu digunakeun ku baladna. Bubuhan rea pembela-pembela[9] njiliwuri djeung mopoek, maledog balati ka musuhna, ti luareun kalang. Tapi nu sohor mah tetep Si Djago bae.
,,Heuh ……… heuh ……… heuh !” bari njampeurkeun musuhna. Djeprot disepak, ketjoh ditjiduhan, bari ngahaok : ,,Hajoh dak, randjah imah-imahna[10].” Si Djago mere komando bari ludjag-ledjeg, siga nu heueuh unggul ku djalan beresih. ,,Tjalukan djarona ka dieu. Kumpulkeun djalma-djalma[11] kabeh.”
Teu kungsi saparapat djam, awewe-lalaki geus kumpul naragog hareupeun Si Djago, bangun miris.
,,Mana djarona dak?” ,,Ieu jeuh Ka,” salasaurang baladna ngagorowok bari njuntrungkeun djaro (lurah).
,,Saha ngaran dia, hah?”
,,Badi” djawabna bari ngadegdeg.
Sanadjan manehna urut djawara oge, ari njanghareupan Si Djago mah keder. Hatena ratug tutunggulan.
,,Mimiti poe ieu dia dipotjot ku aing. Bagus keneh dia teu di podaran ge.” Ret panonna nitenan wanita-wanita[12] nu naragog.
,,Tah nu ieu, nu ieu, tuh nu itu, itu” bari nundjukan awewe nu taregep. ,,Djang aing eta mah. Ulah aja nu wani!”
Si Djago nu geus nalukkeun djawara-djawara di unggal kabupaten, katjamatan djeung desa, ngaranna beuki sohor bae. Beuki gede pangaruhna djeung loba pakajana, beuki matjeuh sarakahna, ngagalaksak ka rajat.
Angen-angen-na[13]mah hajang bisa nalukkeun kabeh djago di sakuliah Banten, ti Udjung Kulon nepi ka Djampang Kulon. Ngaranna beuki dipikagimir bae, atuh beuki sombong, adatna mahiwal ti batur. Sagala kahajangna teu meunang dipungpang, utjapna hajang digugu bae. Lamun tjarekna : ,,Tjokot awewe itu!” djeun teuing pamadjikan batur, hih kudu wae digugu. Dibantah saeutik ge make kolu ngadek. Tapi ana geus njaah ka djelema, babakuna nu bisa ngadjilat, wah taja dunja kinasihan. Bro-broan, ka awewe mah. Sakalina mahugi oge tara diitung deui, sok imahna, sawahna, kebonna, lengkep djeung ingon-ingonna[14]. Tapi lamun seug kahajangna dihalang-halang. Beu, mani kawas nu ngadadak owah. Murang-maring, djubras-djebris hahaok djeung sesentak babanting bari meupeus keujang, tapi baladna geus teu helok deui. Lamun gegedugna keur ,,motah” tjara nu kasurupan teh, osok song we diasongan awewe geulis ngadadak lindeuk, bari latam-letem tjara embe badot ngadeuleu Si Bikang. Pajus disebut kolot-kolot[15] kokorobet teh, da umur Si Djago teh geus kawilang kolot. Kitu lah kira-kira[16] 65 taun. TapiI kalakuanna ka wanita mah tara ieuh eleh ku nu ngarora, mun teu rek disebut leuwih gembul teh. Madjar teh, ,,meungpeung aing kawasa, sagala lubak-libuk.” Numatak Si Djago hirupna beuki kolot teh beuki mangprung. Tunggul dirarud tjatang dirumpak. Djadjauheun kana babalik pikir teh. Ari pamadjikan salawasna opat. Nu resmina kitu soteh. Ari ka saha-saha[17] ngakuna mah Islam. Tapi Islamna ngan lebah njandung wungkul. Deugeulna (kepala batu) alahbatan budak halabhab. Rarasaanana ,,aing pang benerna sorangan”; batur mah kabeh ge salah! Aing kudu digugu!
Dina hidji poe sore-sore[18] Si Djago diriung-riung ku baladna nu raket pisan. Manehna ngabaheuhaj dina korsi males. Di kamar istimewa paranti leleson djeung sukan-sukan[19]. Gigireunana dua modjang nu barahenol tarapak deku bari mareuseulan bitisna. Saurang deui modjang keur njiaran njabutan huisna, da hajang tetep siga ngora, magar teh.
,,Daak, Daak, ……….! Sora Si Djago ngagerem. Panonna peureum beunta. ,,Kumaha Si Deugeul, djaro Mandalawangi tea geus dipotjot?”Djempling taja nu ngadjawab.
,,Pan euweuh nu njoara? Hajeh ngomong dararia!”
,,Ehm ….. Ehm …..” Si Patrik anak emasna Si Djago ngadehem.
,,Teu atjan Ka.”
,,Hah…….. ku naon?”
,,Eta…… eh…….. dihalang-halang ku anakna.”
,,Anakna? Djawara kitu?”
,,Sanes. Dja budak keneh, malah bedjana mah sakola keneh.”
,,Bating! Kapan ku budak bae bisa dihalangan. Naon daria geus djaradi bikang kitu?”
Kuniang Si Djago hudang. Bari molotot, manehna ngagorowok: ,,Mana Si Gada nu diparentah ku aing ngaganti Si Deugeul?”
,,Tatjan dongkap Ka, di Mandalawangi keneh.”
,,Hajoh teang kaditu. Heran aing mah, boga balad ketjing kitu.”
,,Pan aing nu ngagadjih daria unggal poe. Aing nu maraban daria isuk-sore. Aing nu mere pipamadjikaneun ka daria. Tjoba hajang njaho, saha nu adil djeung bageur tjara aing? Moal aja sadunja geh. Aing nu pangdjagona, aing nu pangbageurna……”
Sabot kitu di luar aja sora ribut-ribut[20]. Djelema tinggorowok, tingdjarerit mani ajeuh-ajeuhan.
,,Naon tah?” Si Djago tjuringhak. ,,Saha nu wani ribut-ribut[21] di imah aing? Kurang adjar……..”.
Tjan oge anggeus ngomongna, ana berejek tej djelema-djelema[22] ti luar arasup. Panto didjedjek parabot diubrak-abrik. Bru-bro barang petjah-belah kawas dibanting-bantingkeun. Blak panto kamar Si Djago muka, aja nu nedjeh. Sampojong-sampojong aja djelema asup. Badjuna ruwak-rawek, beungeutna pinuh ku getih. Bru rubuh hareupeun Si Djago. Blus tilu djadjaka arasup. Narangtung adjeg, tapi sikepna sajaga. Pasemonna leber wawanen.
,,Tah…… Djago……! Balad andika Si Gada nu rek ngaganti Djaro Deugeul!!” tjeuk salah saurang djadjaka. Ngomongna ajem teu aja sari-sari kasima, komo gimir mah. Bangun jakin ka diri pribadi.
,,Haramjadah….” Si Djago ngagorowok. Ambekanana ngahegak panonna buntjelik. ,,Saha dia hah? Deuk ngadjagoan hareupeun aing! Budak olol leho, hajoh ngomong, bisi hajang dipekprek hulu dia ku aing. Saha ngaran dia?”
,,Kula” djawab pamingpin djadjaka-djadjaka tea, ,,Ti Mandalawangi. Katelah mah Pakih.”
,,Pakih? Tjan ngadenge ngaran kitu mah. Anak saha dia hah?”
,,Kula anak Djaro Deugeul nu ku andika deuk dipotjot. Kula sabatur-batur ngahadja datang ka dieu deuk mere peringetan ka andika………..”
,,Peringetan……..? Aing deuk diingetan ku pantaran kitu? Budak bau djaringao? Heuh, heuh, heuh, heuh……”
Belewer aja nu ngalajang luhureun sirah Si Djago. Tjleb peso balati nantjeb kana panto tukangeunana. Manehna ngarendjag tuluj malik. Sabot malik serepet aja nu ngagaris kana leungeun badjuna. Rikat manehna njingtjet. Tjleb deui peso balati nu kadua nantjeb dina kosen panto.
,,Bangsat dia, nangtang gelut ka aing?” bari nepakan dadana. Si Djago sosoak: ,,Jeuh aing Djago. Aing nu kawasa, aing nu ngereh sakuliah Banten. Dararia mah tjatjing tjau! Budak olo-leho, tjan njaho di nu djagoan. Aing nu geus loba pangalaman, aing nu geus seubeuh mandi geutih, aing…………….”
,,Ngadjedog ulah loba pidato andika!” tjeuk Pakih tetep ajem. ,,Geus bosen kami mah. Tembongkeun ajeuna kadjagoan andika. Geus datang mangsana andika ngeureunan sagala kadjahatan, kadoliman djeung kasarakahan. Rajat laleutik geus teu sabar deui digarong pakajana, dirampas anak-pamadjikanana ku andika djeung balad andika. Meudjeuhna ajeuna andika tobat ka Pangeran djeung sumpah hareupeun batur-batur[23] kami, jen moal deui-deui[24] ngaruksak kaum wanita…….”
,,Heuh, heuh, heuh. Deuk njingsieunan dia ka aing? Heuh, heuh, heuh. Dak, dak! Deleh ku daria ieu tjatjing-tjatjing[25] tjau, deuk maraksa ka aing kudu taluk? Heuh, heuh, heuh….”
Borobot djandela aja nu naradjang. Putjunghul sirah barudak narolol. Belewer-belewer batu sagede-gede kaletji merekpek sirah djeung beungeut Si Djago. Manehna pakupis nakis, hut-het, djlung-djleng, tapi atuda murubut datangna, sanadjan maher pentja, teu burung baluntjunur tarang djeung sirahna.
Ambek njedek tanaga midek. Tungtungna mah ngadjendjen weh.
,,Eureun!” Pakih mere komando ka anak buahna. ,,Hajoh Djago kumaha karep andika ajeuna? Sanggup sumpah? Sanggup ngeureunan sagala kadjahatan djeung kadoliman? Atawa hajang digorok andika ku anak buah kami?”
,,Eh… eh… eh… Nanaonan ieu kasep. Kapan Mamang ti baheula geh tukang ngurus djelema leutik. Njaah, deudeuh ka pakir-miskin. Teu rumasa Mamang mah. Demi Allah daek paeh kasarad, tilok ngabinasa ka sasama manusa. Hiih haram geh hukumna ……”
,,Ari eta andika sok ngarusak kaom wanita. Tjruk-tjrek kawin ka ditu ka dieu, djaba ngundeur. Pakaja batur dirampas, njawana dipegatkeun.”
,,Masja Allah, pitenah eta mah. Pitenah kasep, ulah sok dipertjaja. Mamang nu ngarondjatkeun harkat kaom wanita mah. Mamang nu geus korban melaan rakjat djembel. Sing pertjaja ka Mamang. Ulah kaosol ku batur Sep. Maranehna mah sirikeun ka urang…” djawabna neger-negerkeun maneh. Tapi dina hatena mah njeungseurikeun. Lah pilakadar bebenjit kamari ieu. Njaho ge moal urusan kolot.
Ari eta, pamadjikan andika nu ngarora, kapan pantesna mah djadi intju. Kabeh meunang papaksa. Lain ngaruksak wanita ari kitu?”
,,Aih, aih kasep. Eta mah amal soleh, Mamang mah sosial ka saha-saha oge.”
Tajohna mah batur-batur[26] Pakih geus teu sabar; djlung-djleng laluntjatan tina djandela. Rob ngalingkung Si Djago bari tinggorowok djeung mesat bedog. ,,Gebruskeun bae ka Tjiliman! Tarandjangan, urang arak ka kota. Bui, bui, asupkeun ka pangbuian….gebugan heula!”
,, Stop dak!” Pakih mere komando.
Djep djempling. Sanadjan ngarora keneh oge, ari kana disiplin mah njaraho. Nurut ka pamingpin.
Srog Pakih madju bari ngomong : ,,Ieuh, Djago, bisi teu njaho batur-batur[27] andika kabeh geus ditewakan ku anak buah kami djeung ku rajat. Digarebugan patingdjaropak. Kari andika ulon-ulonna. Bisi panasaran hajang ngalawan, pek andika kari meta. Arek silih kadek ku bedog, arek silih tewek ku peso, kami teu sieun.
Harta banda maneh nu asal meunang ngarampas sarta diaraku ku nu bogana, ku kami dipulang-pulangkeun ka nu boga milik. Boh nu aja di andika, di pamadjikan andika, di anak, di baraja, anu tetela meunang teu halal mah, kabeh dipulangkeun ka nu bogana.
Bisi teu njaho, rajat Tjibaliung ajeuna geus beunta, geus hudang, geus samiuk, kabeh idjideun, ambekeun ka andika. Lamun ajeuna ku kami dihutjuhkeun, moal kungsi lima menit andika djadi bangke! Ngarti?”
Lamun andika hajang salamet pandjang umur, ajeuna keneh talak pamadjikan andika opatanana, sina mulang ka salaki-salakina nu bareto. Andika pribadi memeh surup mata poe kudu geus indit ninggalkeun Banten. Hade tetep matuh di Banten, tapi kudu tarima hulu andika misah tina awak.”
,,Gorowok ti luar rame : ,,Peuntjit bae ajeuna! Peuntjiiiit!”
Si Djago anu sok susumbar-gumagah teh, harita mani ,,peot” bawaning ku sieun. Ngolesed tina korsi males bari njembah atjong-atjongan, menta hirup.
,,Haju urang tinggalkeun” Tjeuk Pakih ,,Kateuteuari ngalajanan nu burung…..”.
Si Gomar anu geus kasohor djago di daerah Tjibaliung, hatena rada hemar-hemir. Asa kakara manggih lawan anu teuneung ludeung asup ka daerahna. Sanadjan manehna geus njaho kana ngaranna oge, ari adu hareupan mah kakara, da di dunja kadjawaraan di sakuliah Banten mah teu aja nu bireuk atuh ka si Djago the. Djago-djago di Labuan, Menes, Rangkas, Cilegon, Pandeglang geus teter. Kabeh dipatjundang. Karek ku haok djeung polototna bae ge geus rea nu taluk. Komo ieu bari diparag ku si Djago djeung baladna saperti ajeuna mah.
Kareret ku djuru panon Si Gomar, balad-balad[3] manehna sorangan bangun nu leungit pangatjian. Renghap manehna narik napas pandjang, tajohna ngumpulkeun heula tanaga djeung pangatjian.
,,Djadi asal idjen!” djawab Si Gomar neger-negerkeun maneh. Hatena mah teu wudu dag diug dug. Srog madju ka hareup. Bedog Tjiomasna meh ngangsar kana taneuh. Geulang bahar meulit dina pigeulang duanana. Dua djago geus adu hareupan. Nu saurang awak badag sembada, nu saurang deui djangkung leutik.
Njeh Si Djago njerengeh semu nu ngahoa. Pikirna sageprak oge Si Gomar moal teu rubuh.
,,Heeet” Si Djago ngagigila musuhna. Dina kalangan pentja di Banten mah sora ieu teh pikeun mere peringetan. Musuh kudu iatna sabab gorowok kieu the biasana disusul ku panaradjang kilat nu bahja. Tapi da lain djawara sakatiga atuh si Gomar oge. Nangtungna masing angger tagen. Teu seber ku geretak nu matak katorekan. Manehna tetep ngadago gerakna musuhna. Tapi nu didago lebeng.
Ana barakatak the Si Djago ngagakgak ,,Heuh, heuh, heuh,” matak muringkak bulu punduk. ,,Heuh heuheuh, bener djago dia, njah! Deungeun-deungeun mah karek dihetkeun geh geus bidjil kokoneng.”
Rej beungeut Si Gomar beureum. Hatena ngentab panas. Leungit sagala kagimir. Ajeuna paeh isuk paeh. La haula wa la kuwata, tjeuk hatena njambat. Teuing ka saha. Ngan nu dipeleng ku mengingetna mah, guruna, nu nurunkeun sagala elmu pentja djeung kawedukan.
,,Hajoh dia madju”. Ragamang Si Djago rek ngarawel beuheung Si Gomar. Ieu pisan nu diarep-arep[4] ku Si Gomar ge. Antara sasenti deui ngagilek, leungeun musuh digiwarkeun kaluar. Tapi…. Meh wae manehna kaleungitan kasaimbangan badanna. Da leungeun Si Djago sakilat: ,,leungit”. Sihoreng eta gerak tipu. Geuwat manehna menerkeun deui tangtunganana.
,,Heuh, heuh heuh” Si Djago Tjeutjeuleukeuteukan. Seuri nu karasana asa balati nurih angen Si Gomar. Saumur dumelah, karek ajeuna dipojok djeung digeuhgeujkeun dina kalang, mangkaning di lembur sorangan deuih. Renghap deui narik napas. Huntuna kekerot. Napsuna mimiti ngagudag-gudag. Gorowok manehna nantang. ,,Hajoh dia djago, madju Setan ……….”.
Djep nu njeungseurikeun djempe. Rej beungeut Si Djago beureum. Biwirna mani ngawet, dadana beuki didjeberkeun. Panonna molotot bangun anu rek ngalegleg.
,,Disakalikeun dia ku aing ajeuna mah, moal diomberan,” gerentesna. Sebrut peureup katuhuna nu sagede tjengkir ngahiuk. Djleng Si Gomar luntjat ka katuhueun musuhna, bari nepak siku Si Djago ku leungeun kentja, bareng djeung suku katuhuna nedjeh palangkakan. Mun nu sedjen mah dina tangtung kitu teh geus pasti beunang mamatihna.
Tapi Si Djago nu kakontjara maher pentjana, ngan ukur djero sasekon geus bisa ngomean tangtungna. Sret narik leungeunna nu milepas, disikukeun bari ngarengkogkeun awakna. Tulang siku diadu djeung tuur Si Gomar. Ngan sakilat duanana geus pada menerkeun deui tangtungna. Sadjongdjonan papelong-pelong[5]. Napasna ngaharegak. Sebrut deui Si Djago ngaheumbatkeun peureup katuhuna. Tapi harita keneh ditjentok deui bari ngagilirkeun awakna ka katuhu. Atuh Si Gomar nu rek ngadua kalian mitjeun panaradjang musuhna kawas tadi teh, ajeuna kapalingan tangtung. Karek ge djleng ka katuhu geus dipapag manten ku peureup Si Djago nu ditudjukeun kana beungeutna. Gerak refleks Si Gomar teu kendor, lep manehna ngelok, brek pasang depok. Peureup kentja Si Djago ngahiuk mani bangbaraan milepas luhureun sirah musuhna. Kapaksa Si Djago ngalengkah ka hareup pikeun mere kasaimbangan tangtungna nu lontjer. Tapi karek ge tjlek sukuna kana taneuh, geprak suku Si Gomar ngagunting. Riek awak Si Djago njanggejeng. Arek dibeubeutkeun pisan, gewewek ngaranggeum buuk Si Gomar. Nu laladjo mongkek napas. Gurindjal, djleng Si Gomar luntjat heula. Geutih ngarej kana tarangna. Serepet bedogna dilugas. Gurilap-gurilap[6] katodjo panon poe.
Si Djago, da beurat ku awak, teu kaburu nangtung. Kapaksa manehna ulin di handap, pikeun nahan panaradjang Si Gomar. Seak sora bedog ngahiuk njabet beuheungna. Gilek Si Djago ngagilek bari ngadepong, djekres sukuna ngagunting musuhna. Tapi Si Gomar rikat pisan ngadjleng.
Djleng ka kentja, ketjek suku Si Djago dikadek, tapi poos digiwarkeun, bles bedogna nantjeb kana taneuh. Si Gomar dina sikep nu nguntungkeun, terus njehtjer musuhna ………………. Djlung-djleng ka kentja ka katuhu bari njabet-njabetkeun[7] bedogna. Si Djago napasna geus mimiti ngahegak. Manehna kapaksa ngalawan musuhna ku karikatan sukuna wungkul. Kaajaanana matak pikahariwangeun.
,,Tah, Ka ………. !” Salah saurang balad Si Djago ngagorowok. Belewer aja nu ngalajang luhureun sirah Si Djago, manehna ngagilek bari njanggap bedog musuhna ku siku-siku.
Belentrang wadja pada wadja diadu, bareng djeung ngagoakna Si Gomar. Pluk bedogna murag tina leungeunna. Sadjongdjongan ngadjengdjen, bru nu rubuh bari sesegor, Si Gomar palastra-satria tengahing kalang. Aja nu djail ti luareun kalang!
Si Djago nu masih ngadepong bari ngahegak, olohok nendjo musuhna teu puguh-puguh[8] rubuh. Djung manehna nangtung lalaunan. Breh katendjo aja peso nantjeb dina tonggong Si Gomar. Barakatak manehna seuri. Geus biasa da, samangsa-mangsa manehna kapeped dina tarung, geus tangtu aja pakarang ,,rasiah” nu digunakeun ku baladna. Bubuhan rea pembela-pembela[9] njiliwuri djeung mopoek, maledog balati ka musuhna, ti luareun kalang. Tapi nu sohor mah tetep Si Djago bae.
,,Heuh ……… heuh ……… heuh !” bari njampeurkeun musuhna. Djeprot disepak, ketjoh ditjiduhan, bari ngahaok : ,,Hajoh dak, randjah imah-imahna[10].” Si Djago mere komando bari ludjag-ledjeg, siga nu heueuh unggul ku djalan beresih. ,,Tjalukan djarona ka dieu. Kumpulkeun djalma-djalma[11] kabeh.”
Teu kungsi saparapat djam, awewe-lalaki geus kumpul naragog hareupeun Si Djago, bangun miris.
,,Mana djarona dak?” ,,Ieu jeuh Ka,” salasaurang baladna ngagorowok bari njuntrungkeun djaro (lurah).
,,Saha ngaran dia, hah?”
,,Badi” djawabna bari ngadegdeg.
Sanadjan manehna urut djawara oge, ari njanghareupan Si Djago mah keder. Hatena ratug tutunggulan.
,,Mimiti poe ieu dia dipotjot ku aing. Bagus keneh dia teu di podaran ge.” Ret panonna nitenan wanita-wanita[12] nu naragog.
,,Tah nu ieu, nu ieu, tuh nu itu, itu” bari nundjukan awewe nu taregep. ,,Djang aing eta mah. Ulah aja nu wani!”
Si Djago nu geus nalukkeun djawara-djawara di unggal kabupaten, katjamatan djeung desa, ngaranna beuki sohor bae. Beuki gede pangaruhna djeung loba pakajana, beuki matjeuh sarakahna, ngagalaksak ka rajat.
Angen-angen-na[13]mah hajang bisa nalukkeun kabeh djago di sakuliah Banten, ti Udjung Kulon nepi ka Djampang Kulon. Ngaranna beuki dipikagimir bae, atuh beuki sombong, adatna mahiwal ti batur. Sagala kahajangna teu meunang dipungpang, utjapna hajang digugu bae. Lamun tjarekna : ,,Tjokot awewe itu!” djeun teuing pamadjikan batur, hih kudu wae digugu. Dibantah saeutik ge make kolu ngadek. Tapi ana geus njaah ka djelema, babakuna nu bisa ngadjilat, wah taja dunja kinasihan. Bro-broan, ka awewe mah. Sakalina mahugi oge tara diitung deui, sok imahna, sawahna, kebonna, lengkep djeung ingon-ingonna[14]. Tapi lamun seug kahajangna dihalang-halang. Beu, mani kawas nu ngadadak owah. Murang-maring, djubras-djebris hahaok djeung sesentak babanting bari meupeus keujang, tapi baladna geus teu helok deui. Lamun gegedugna keur ,,motah” tjara nu kasurupan teh, osok song we diasongan awewe geulis ngadadak lindeuk, bari latam-letem tjara embe badot ngadeuleu Si Bikang. Pajus disebut kolot-kolot[15] kokorobet teh, da umur Si Djago teh geus kawilang kolot. Kitu lah kira-kira[16] 65 taun. TapiI kalakuanna ka wanita mah tara ieuh eleh ku nu ngarora, mun teu rek disebut leuwih gembul teh. Madjar teh, ,,meungpeung aing kawasa, sagala lubak-libuk.” Numatak Si Djago hirupna beuki kolot teh beuki mangprung. Tunggul dirarud tjatang dirumpak. Djadjauheun kana babalik pikir teh. Ari pamadjikan salawasna opat. Nu resmina kitu soteh. Ari ka saha-saha[17] ngakuna mah Islam. Tapi Islamna ngan lebah njandung wungkul. Deugeulna (kepala batu) alahbatan budak halabhab. Rarasaanana ,,aing pang benerna sorangan”; batur mah kabeh ge salah! Aing kudu digugu!
Dina hidji poe sore-sore[18] Si Djago diriung-riung ku baladna nu raket pisan. Manehna ngabaheuhaj dina korsi males. Di kamar istimewa paranti leleson djeung sukan-sukan[19]. Gigireunana dua modjang nu barahenol tarapak deku bari mareuseulan bitisna. Saurang deui modjang keur njiaran njabutan huisna, da hajang tetep siga ngora, magar teh.
,,Daak, Daak, ……….! Sora Si Djago ngagerem. Panonna peureum beunta. ,,Kumaha Si Deugeul, djaro Mandalawangi tea geus dipotjot?”Djempling taja nu ngadjawab.
,,Pan euweuh nu njoara? Hajeh ngomong dararia!”
,,Ehm ….. Ehm …..” Si Patrik anak emasna Si Djago ngadehem.
,,Teu atjan Ka.”
,,Hah…….. ku naon?”
,,Eta…… eh…….. dihalang-halang ku anakna.”
,,Anakna? Djawara kitu?”
,,Sanes. Dja budak keneh, malah bedjana mah sakola keneh.”
,,Bating! Kapan ku budak bae bisa dihalangan. Naon daria geus djaradi bikang kitu?”
Kuniang Si Djago hudang. Bari molotot, manehna ngagorowok: ,,Mana Si Gada nu diparentah ku aing ngaganti Si Deugeul?”
,,Tatjan dongkap Ka, di Mandalawangi keneh.”
,,Hajoh teang kaditu. Heran aing mah, boga balad ketjing kitu.”
,,Pan aing nu ngagadjih daria unggal poe. Aing nu maraban daria isuk-sore. Aing nu mere pipamadjikaneun ka daria. Tjoba hajang njaho, saha nu adil djeung bageur tjara aing? Moal aja sadunja geh. Aing nu pangdjagona, aing nu pangbageurna……”
Sabot kitu di luar aja sora ribut-ribut[20]. Djelema tinggorowok, tingdjarerit mani ajeuh-ajeuhan.
,,Naon tah?” Si Djago tjuringhak. ,,Saha nu wani ribut-ribut[21] di imah aing? Kurang adjar……..”.
Tjan oge anggeus ngomongna, ana berejek tej djelema-djelema[22] ti luar arasup. Panto didjedjek parabot diubrak-abrik. Bru-bro barang petjah-belah kawas dibanting-bantingkeun. Blak panto kamar Si Djago muka, aja nu nedjeh. Sampojong-sampojong aja djelema asup. Badjuna ruwak-rawek, beungeutna pinuh ku getih. Bru rubuh hareupeun Si Djago. Blus tilu djadjaka arasup. Narangtung adjeg, tapi sikepna sajaga. Pasemonna leber wawanen.
,,Tah…… Djago……! Balad andika Si Gada nu rek ngaganti Djaro Deugeul!!” tjeuk salah saurang djadjaka. Ngomongna ajem teu aja sari-sari kasima, komo gimir mah. Bangun jakin ka diri pribadi.
,,Haramjadah….” Si Djago ngagorowok. Ambekanana ngahegak panonna buntjelik. ,,Saha dia hah? Deuk ngadjagoan hareupeun aing! Budak olol leho, hajoh ngomong, bisi hajang dipekprek hulu dia ku aing. Saha ngaran dia?”
,,Kula” djawab pamingpin djadjaka-djadjaka tea, ,,Ti Mandalawangi. Katelah mah Pakih.”
,,Pakih? Tjan ngadenge ngaran kitu mah. Anak saha dia hah?”
,,Kula anak Djaro Deugeul nu ku andika deuk dipotjot. Kula sabatur-batur ngahadja datang ka dieu deuk mere peringetan ka andika………..”
,,Peringetan……..? Aing deuk diingetan ku pantaran kitu? Budak bau djaringao? Heuh, heuh, heuh, heuh……”
Belewer aja nu ngalajang luhureun sirah Si Djago. Tjleb peso balati nantjeb kana panto tukangeunana. Manehna ngarendjag tuluj malik. Sabot malik serepet aja nu ngagaris kana leungeun badjuna. Rikat manehna njingtjet. Tjleb deui peso balati nu kadua nantjeb dina kosen panto.
,,Bangsat dia, nangtang gelut ka aing?” bari nepakan dadana. Si Djago sosoak: ,,Jeuh aing Djago. Aing nu kawasa, aing nu ngereh sakuliah Banten. Dararia mah tjatjing tjau! Budak olo-leho, tjan njaho di nu djagoan. Aing nu geus loba pangalaman, aing nu geus seubeuh mandi geutih, aing…………….”
,,Ngadjedog ulah loba pidato andika!” tjeuk Pakih tetep ajem. ,,Geus bosen kami mah. Tembongkeun ajeuna kadjagoan andika. Geus datang mangsana andika ngeureunan sagala kadjahatan, kadoliman djeung kasarakahan. Rajat laleutik geus teu sabar deui digarong pakajana, dirampas anak-pamadjikanana ku andika djeung balad andika. Meudjeuhna ajeuna andika tobat ka Pangeran djeung sumpah hareupeun batur-batur[23] kami, jen moal deui-deui[24] ngaruksak kaum wanita…….”
,,Heuh, heuh, heuh. Deuk njingsieunan dia ka aing? Heuh, heuh, heuh. Dak, dak! Deleh ku daria ieu tjatjing-tjatjing[25] tjau, deuk maraksa ka aing kudu taluk? Heuh, heuh, heuh….”
Borobot djandela aja nu naradjang. Putjunghul sirah barudak narolol. Belewer-belewer batu sagede-gede kaletji merekpek sirah djeung beungeut Si Djago. Manehna pakupis nakis, hut-het, djlung-djleng, tapi atuda murubut datangna, sanadjan maher pentja, teu burung baluntjunur tarang djeung sirahna.
Ambek njedek tanaga midek. Tungtungna mah ngadjendjen weh.
,,Eureun!” Pakih mere komando ka anak buahna. ,,Hajoh Djago kumaha karep andika ajeuna? Sanggup sumpah? Sanggup ngeureunan sagala kadjahatan djeung kadoliman? Atawa hajang digorok andika ku anak buah kami?”
,,Eh… eh… eh… Nanaonan ieu kasep. Kapan Mamang ti baheula geh tukang ngurus djelema leutik. Njaah, deudeuh ka pakir-miskin. Teu rumasa Mamang mah. Demi Allah daek paeh kasarad, tilok ngabinasa ka sasama manusa. Hiih haram geh hukumna ……”
,,Ari eta andika sok ngarusak kaom wanita. Tjruk-tjrek kawin ka ditu ka dieu, djaba ngundeur. Pakaja batur dirampas, njawana dipegatkeun.”
,,Masja Allah, pitenah eta mah. Pitenah kasep, ulah sok dipertjaja. Mamang nu ngarondjatkeun harkat kaom wanita mah. Mamang nu geus korban melaan rakjat djembel. Sing pertjaja ka Mamang. Ulah kaosol ku batur Sep. Maranehna mah sirikeun ka urang…” djawabna neger-negerkeun maneh. Tapi dina hatena mah njeungseurikeun. Lah pilakadar bebenjit kamari ieu. Njaho ge moal urusan kolot.
Ari eta, pamadjikan andika nu ngarora, kapan pantesna mah djadi intju. Kabeh meunang papaksa. Lain ngaruksak wanita ari kitu?”
,,Aih, aih kasep. Eta mah amal soleh, Mamang mah sosial ka saha-saha oge.”
Tajohna mah batur-batur[26] Pakih geus teu sabar; djlung-djleng laluntjatan tina djandela. Rob ngalingkung Si Djago bari tinggorowok djeung mesat bedog. ,,Gebruskeun bae ka Tjiliman! Tarandjangan, urang arak ka kota. Bui, bui, asupkeun ka pangbuian….gebugan heula!”
,, Stop dak!” Pakih mere komando.
Djep djempling. Sanadjan ngarora keneh oge, ari kana disiplin mah njaraho. Nurut ka pamingpin.
Srog Pakih madju bari ngomong : ,,Ieuh, Djago, bisi teu njaho batur-batur[27] andika kabeh geus ditewakan ku anak buah kami djeung ku rajat. Digarebugan patingdjaropak. Kari andika ulon-ulonna. Bisi panasaran hajang ngalawan, pek andika kari meta. Arek silih kadek ku bedog, arek silih tewek ku peso, kami teu sieun.
Harta banda maneh nu asal meunang ngarampas sarta diaraku ku nu bogana, ku kami dipulang-pulangkeun ka nu boga milik. Boh nu aja di andika, di pamadjikan andika, di anak, di baraja, anu tetela meunang teu halal mah, kabeh dipulangkeun ka nu bogana.
Bisi teu njaho, rajat Tjibaliung ajeuna geus beunta, geus hudang, geus samiuk, kabeh idjideun, ambekeun ka andika. Lamun ajeuna ku kami dihutjuhkeun, moal kungsi lima menit andika djadi bangke! Ngarti?”
Lamun andika hajang salamet pandjang umur, ajeuna keneh talak pamadjikan andika opatanana, sina mulang ka salaki-salakina nu bareto. Andika pribadi memeh surup mata poe kudu geus indit ninggalkeun Banten. Hade tetep matuh di Banten, tapi kudu tarima hulu andika misah tina awak.”
,,Gorowok ti luar rame : ,,Peuntjit bae ajeuna! Peuntjiiiit!”
Si Djago anu sok susumbar-gumagah teh, harita mani ,,peot” bawaning ku sieun. Ngolesed tina korsi males bari njembah atjong-atjongan, menta hirup.
,,Haju urang tinggalkeun” Tjeuk Pakih ,,Kateuteuari ngalajanan nu burung…..”.
Mengapa Bulan Berwarna Merah Saat Gerhana?
Saat terjadi gerhana total, seperti yang terjadi saat titik balik matahari musim dingin pada 21 Desember 2010, bayangan bumi butuh tiga jam 28 menit untuk menyelimuti wajah bulan.
Ketika itu, terjadi gerhana bulan total selama 72 menit dan dapat diamati di Pantai Timur Amerika Serikat (AS), pukul 01.33-05.01 waktu setempat. Sedangkan di Pantai Barat, pengamat langit melihatnya pukul 10.33-02.01 waktu setempat.
Fakta bahwa planet kita cukup besar untuk menghalangi cahaya matahari, Anda tentunya sempat berpikir bayangan bumi akan sepenuhnya menutupi matahari. Hal ini malah membuat cahaya bulan menyeramkan dan menakutkan. Mengapa demikian?
Jika bumi menghalangi, sinar matahari akan ‘membelok’ dan melalui tepi bumi. Lalu cahayanya tercermin ke bulan. Warna kemerahan bulan berasal dari sinar cahaya yang langsung disaring melalui atmosfer bumi. Efek visual yang sama membuat matahari terbenam berwarna mencolok.
Atmosfer bumi bertindak seperti filter, menghapus sebagian besar cahaya berwarna biru dan menyisakan cahaya merah-oranye ke permukaan bulan. Bulan akan berubah menjadi berbagai warna selama tahapan gerhana yang berbeda-beda. Mulai dari abu-abu, ke oranye dan kuning.
Kecerahan warna juga dapat dipengaruhi kondisi atmosfer. Menurut Lembaga Antariksa AS (NASA), partikel ekstra di atmosfer, seperti dari letusan gunung berapi, dapat menyebabkan bulan berwarna lebih gelap dari merah.
Ketika itu, terjadi gerhana bulan total selama 72 menit dan dapat diamati di Pantai Timur Amerika Serikat (AS), pukul 01.33-05.01 waktu setempat. Sedangkan di Pantai Barat, pengamat langit melihatnya pukul 10.33-02.01 waktu setempat.
Fakta bahwa planet kita cukup besar untuk menghalangi cahaya matahari, Anda tentunya sempat berpikir bayangan bumi akan sepenuhnya menutupi matahari. Hal ini malah membuat cahaya bulan menyeramkan dan menakutkan. Mengapa demikian?
Jika bumi menghalangi, sinar matahari akan ‘membelok’ dan melalui tepi bumi. Lalu cahayanya tercermin ke bulan. Warna kemerahan bulan berasal dari sinar cahaya yang langsung disaring melalui atmosfer bumi. Efek visual yang sama membuat matahari terbenam berwarna mencolok.
Atmosfer bumi bertindak seperti filter, menghapus sebagian besar cahaya berwarna biru dan menyisakan cahaya merah-oranye ke permukaan bulan. Bulan akan berubah menjadi berbagai warna selama tahapan gerhana yang berbeda-beda. Mulai dari abu-abu, ke oranye dan kuning.
Kecerahan warna juga dapat dipengaruhi kondisi atmosfer. Menurut Lembaga Antariksa AS (NASA), partikel ekstra di atmosfer, seperti dari letusan gunung berapi, dapat menyebabkan bulan berwarna lebih gelap dari merah.
Pola Crop Circle Muncul di Sleman Jogja
nfo Kita – Waaaah, kali ini masyarakat di Indonesia digemparkan oleh sebuah pola aneh raksasa yang tiba-tiba muncul di areal persawahan Desa Rejosari, Sleman, Jogjakarta. Pola aneh yang mirip dengan logo Cakra Muladhara dalam ajaran Hindu. Beberapa warga setempat sempat mendengar suara gemuruh pada malam hari sebelum munculnya crop circle di Sleman itu.
Sebagian orang meyakini bahwa pola aneh di areal persawahan ini adalah jejak bahwa telah ada UFO (Unidentified Flying Object) yang mendarat di situ. Namun beberapa warga sekitar ada yang berpendapat bahwa ini disebabkan karena “Angin Winasis” mengukir pola itu yang berarti sebuah tanda dari Tuhan.
Hmm…. Apakah ini benar sebuah jejak UFO, sebagai peringatan bahwa kita tidak sendirian di Alam semesta ini? Ataukah ini sebuah fenomena yang terjadi secara alami? Ataukah hanya buatan para seniman Jogja yang iseng??? Silahkan menarik kesimpulan sendiri. :p [-kritz-]
Berikut saya sertakan kutipan artikel – artikel mengenai Munculnya Jejak UFO di Sleman, Jogjakarta ini. Hayyyuuuuk, kita simak aja bareng-bareng berita mengenai crop circle / jejak ufo di sleman ini sambil menyeruput secangkir kopi panas hehehehe….
Fenomena unik terjadi Desa Rejosari, Jogotirto, Berbah, Sleman, Minggu (23/1/2011). Padi ambruk di tengah sawah membentuk pola lingkaran yang sangat rapi. Seperti pola itu sengaja dibuat manusia. Istilah ilmiah untuk fenomena ini biasa disebut dengan istilah crop circles atau lingkar taman.
Menurut keterangan Basori (41), warga yang rumahnya berada di utara sawah itu, Sabtu (22/1/2011) malam sekitar pukul 22.30, dirinya mendengar suara gemuruh layaknya suara helikopter mendarat. “Suara itu terdengar sekitar 30 menit, tetapi saya tidak gubris suara itu. Saya pikir itu suara helikopter lewat,” tuturnya.
Hal itu diamini oleh Ayu Rukini (32), istri Basori. “Saya juga mendengar suara itu. Waktu itu saya dan suami sedang menonton televisi. Saya mengira tentara Angkatan Udara sedang latihan,” ujarnya.
Fenomena ini diketahui pertama kali oleh Yudi (20). “Sekitar pukul lima pagi tadi, saya berangkat kerja. Sewaktu melewati sawah ini, saya melihat padi-padi ambruk tapi membentuk pola yang rapi,” kata Yudi.
Yudi menyanggah keterangan Basori tentang suara gemuruh yang terdengar semalam. Yudi yang tadi malam nongkrong di depan rumah Basori sampai pukul tiga pagi tidak mendengar suara apa pun. “Bahkan semalam tidak ada hujan atau angin. Tahu-tahu tadi pagi sudah terbentuk pola ini (lingkaran) di tengah sawah,” ujar Yudi.
Fenomena ini dapat dilihat dengan jelas dari puncak bukit di utara sawah. Warga setempat menyebut bukit itu Gunung Suru. Puluhan warga menaiki Gunung Suru untuk melihatnya. Hujan turun dan jalan ke puncak bukit yang sangat licin tidak membuat surut antusiasme warga untuk melihat fenomena ini.
“Apakah ada UFO mendarat di sini? Saya tidak tahu pasti. Yang jelas ini adalah kebesaran Allah. Mungkin Allah memperingatkan manusia untuk menjaga alamnya,” kata Syamsul Bahri (37), warga Beloran, Madurejo, Prambanan, Sleman, yang datang untuk melihat dari puncak Gunung Suru.
Jauhari (34), warga Kebondalem, Madurejo, Prambanan, Sleman, yang rela jatuh bangun karena licinnya jalan menuju puncak Gunung Suru, berujar, “Ini seperti fenomena pendaratan UFO, yang sering dibahas di televisi. Tapi, saya tidak tahu apakah benar adanya. Hanya Allah yang tahu sebabnya.”
Lingkaran raksasa yang terbentuk di kawasan pertanian Jogotirto, Berbah, Sleman, menjadi topik perbincangan warga. Pada Senin (24/1/2011) dini hari, saat warga melakukan ronda malam, mereka beradu argumen mengenai fenomena tersebut. Di antaranya, warga menduga hal itu karena angin winasis.
“Angin lesus yang menyebabkan pola itu terbentuk,” kata Misran (44) berargumen. Ia mengisahkan, kemarin ia baru mengikuti sosialisasi pertanian dan muncul banyak wacana, termasuk soal pembentukan angin lesus.
Tak hanya berhenti di situ, Misran menguatkan argumentasinya dengan menyebut bahwa angin lesus itu merupakan tanda yang dikirimkan tuhan. “Para tetua desa menafsirkan kejadian itu karena angin lesus winasis,” ujarnya sambil menyeruput kopi.
Beberapa warga yang antusias mendengar analisis Misran semakin tertarik dengan cerita yang disampaikan, apalagi saat ia panjang lebar mengisahkan soal angin winasis itu.
Sebagian orang meyakini bahwa pola aneh di areal persawahan ini adalah jejak bahwa telah ada UFO (Unidentified Flying Object) yang mendarat di situ. Namun beberapa warga sekitar ada yang berpendapat bahwa ini disebabkan karena “Angin Winasis” mengukir pola itu yang berarti sebuah tanda dari Tuhan.
Hmm…. Apakah ini benar sebuah jejak UFO, sebagai peringatan bahwa kita tidak sendirian di Alam semesta ini? Ataukah ini sebuah fenomena yang terjadi secara alami? Ataukah hanya buatan para seniman Jogja yang iseng??? Silahkan menarik kesimpulan sendiri. :p [-kritz-]
Berikut saya sertakan kutipan artikel – artikel mengenai Munculnya Jejak UFO di Sleman, Jogjakarta ini. Hayyyuuuuk, kita simak aja bareng-bareng berita mengenai crop circle / jejak ufo di sleman ini sambil menyeruput secangkir kopi panas hehehehe….
Fenomena unik terjadi Desa Rejosari, Jogotirto, Berbah, Sleman, Minggu (23/1/2011). Padi ambruk di tengah sawah membentuk pola lingkaran yang sangat rapi. Seperti pola itu sengaja dibuat manusia. Istilah ilmiah untuk fenomena ini biasa disebut dengan istilah crop circles atau lingkar taman.
Menurut keterangan Basori (41), warga yang rumahnya berada di utara sawah itu, Sabtu (22/1/2011) malam sekitar pukul 22.30, dirinya mendengar suara gemuruh layaknya suara helikopter mendarat. “Suara itu terdengar sekitar 30 menit, tetapi saya tidak gubris suara itu. Saya pikir itu suara helikopter lewat,” tuturnya.
Hal itu diamini oleh Ayu Rukini (32), istri Basori. “Saya juga mendengar suara itu. Waktu itu saya dan suami sedang menonton televisi. Saya mengira tentara Angkatan Udara sedang latihan,” ujarnya.
Fenomena ini diketahui pertama kali oleh Yudi (20). “Sekitar pukul lima pagi tadi, saya berangkat kerja. Sewaktu melewati sawah ini, saya melihat padi-padi ambruk tapi membentuk pola yang rapi,” kata Yudi.
Yudi menyanggah keterangan Basori tentang suara gemuruh yang terdengar semalam. Yudi yang tadi malam nongkrong di depan rumah Basori sampai pukul tiga pagi tidak mendengar suara apa pun. “Bahkan semalam tidak ada hujan atau angin. Tahu-tahu tadi pagi sudah terbentuk pola ini (lingkaran) di tengah sawah,” ujar Yudi.
Fenomena ini dapat dilihat dengan jelas dari puncak bukit di utara sawah. Warga setempat menyebut bukit itu Gunung Suru. Puluhan warga menaiki Gunung Suru untuk melihatnya. Hujan turun dan jalan ke puncak bukit yang sangat licin tidak membuat surut antusiasme warga untuk melihat fenomena ini.
“Apakah ada UFO mendarat di sini? Saya tidak tahu pasti. Yang jelas ini adalah kebesaran Allah. Mungkin Allah memperingatkan manusia untuk menjaga alamnya,” kata Syamsul Bahri (37), warga Beloran, Madurejo, Prambanan, Sleman, yang datang untuk melihat dari puncak Gunung Suru.
Jauhari (34), warga Kebondalem, Madurejo, Prambanan, Sleman, yang rela jatuh bangun karena licinnya jalan menuju puncak Gunung Suru, berujar, “Ini seperti fenomena pendaratan UFO, yang sering dibahas di televisi. Tapi, saya tidak tahu apakah benar adanya. Hanya Allah yang tahu sebabnya.”
Lingkaran raksasa yang terbentuk di kawasan pertanian Jogotirto, Berbah, Sleman, menjadi topik perbincangan warga. Pada Senin (24/1/2011) dini hari, saat warga melakukan ronda malam, mereka beradu argumen mengenai fenomena tersebut. Di antaranya, warga menduga hal itu karena angin winasis.
“Angin lesus yang menyebabkan pola itu terbentuk,” kata Misran (44) berargumen. Ia mengisahkan, kemarin ia baru mengikuti sosialisasi pertanian dan muncul banyak wacana, termasuk soal pembentukan angin lesus.
Tak hanya berhenti di situ, Misran menguatkan argumentasinya dengan menyebut bahwa angin lesus itu merupakan tanda yang dikirimkan tuhan. “Para tetua desa menafsirkan kejadian itu karena angin lesus winasis,” ujarnya sambil menyeruput kopi.
Beberapa warga yang antusias mendengar analisis Misran semakin tertarik dengan cerita yang disampaikan, apalagi saat ia panjang lebar mengisahkan soal angin winasis itu.
Langganan:
Postingan (Atom)






